Tipe-Tipe Diabetes Mellitus
Dalam dunia kedokteran klasifikasi penyakit diabetes telah mengalami proses yang panjang hingga kita mengenal berbagai macam tipe-tipe diabetes yang populer saat ini. Sesuai dengan klasifikasi tipe-tipe diabetes yang di tetapkan oleh WHO, maka berikut ini tipe-tipe diabetes yang dipublikasikan oleh organisasi kesehatan dunia tersebut.
1. Diabetes Tipe 1
Pada tipe diabetes
yang diklasifikasikan diabetes tipe 1 ini, dikarenakan penderita
diabetes tidak lagi mampu memproduksi insulin. Bisa juga disebut sebagai
penyakit auto-imun.
Hal ini dikarenakan sistem auto-imun pada suatu
individu menyerang dan merusak sel-sel penghasil insulin yang terdapat
pada pankreas. Akibatnya individu tersebut tidak memiliki kemampuan
untuk merombak gula menjadi energi sebagai penambah tenaga.
Gula yang
menumpuk ini kemudian dapat menyebabkan komplikasi dan membahayakan bagi
keselamatan jiwa. Agar penderita dapat bertahan hidup lebih lama, maka
penderita diabetes tipe 1 ini harus mendapatkan suplai insulin dari luar
tubuh, dengan cara suntik insulin secara rutin.
Sampai
saat ini belum diketahui faktor penyebab terjadinya penyakit auto-imun
ini secara pasti.
Namun faktor genetik dan faktor lingkungan turut
berperan dalam terjadinya peristiwa auto-imun dalam tubuh. Untuk faktor
lingkungan para ahli memperkirakan berasal dari infeksi virus atau
faktor gizi pada masa kanak-kanak atau remaja.
Oleh karena itu penyakit
diabetes tipe 1 ini biasanya terjadi pada usia di bawah 30 tahun
(anak-anak dan remaja).
2. Diabetes Tipe 2
Seperti apakah tipe diabetes
yang di klasifikasikan ke dalam diabetes tipe 2 ini? Pada diabetes tipe
2 faktor genetik lebih dominan bila dibandingkan dengan diabetes tipe
1.
Menurut berbagai penelitian yang dilakukan para ahli, bahwa sebagian
besar penderita diabetes tipe 2 ini memiliki anggota keluarga yang juga
menderita penyakit atau masalah kesehatan yang berhubungan dengan
diabetes.
Masalah kesehatan tersebut dapat meliputi masalah kolesterol,
tekanan darah tinggi maupun obesitas. Namun, faktor lingkungan lah yang
menjadi faktor pemicu utama terjadinya diabetes. Mulai dari makanan yang
dikonsumsi sampai aktivitas sehari-hari.
Pada
penderita diabetes tipe 2 tidak memiliki ketergantungan pada insulin.
Hal ini dikarenakan tubuh ini masih bisa menghasilkan insulin dalam
jumlah yang cukup.
Hanya saja glukosa gagal masuk ke dalam sel. Hal ini
dikarenakan pola makan yang terlalu banyak karbohidrat dan minim
nutrisi. Sehingga dapat menyebabkan tubuh mengalami resistensi insulin,
sehingga penggunaan insulin di dalam tubuh menjadi tidak efektif.
Jika
pola makan seperti ini dilakukan secara terus-menerus dan dalam jangka
lama, maka akan berakibat pada kondisi sel yang terganggu dan rusak.
Sehingga sel tubuh tidak lagi peka terhadap insulin dan gula.
Konsumsi
karbohidrat yang tidak sehat seperti gula, tepung, dan lemak yang
berlebih inilah yang menyebabkan resistensi insulin. Karena kandungan
gula yang berlebih menjadikan sel tubuh tidak lagi mampu mengolah gula
menjadi energi, sehingga kadar gula dalam darah semakin meningkat.
Kebanyakan
penderita diabetes tipe 2 ini berusia dewasa di atas 30 tahun-an. Meski
demikian dengan gaya hidup masyarakat modern saat ini, tidak menutup
kemungkinan untuk usia di bawahnya dapat mengalami penyakit diabetes
tipe 2 ini.
Kebiasaan begadang di malam hari, lembur di kantor, dan
makan di waktu malam hari, dapat menjadi pemicu timbulnya penyakit
diabetes tipe 2. Bahkan di Indonesia tercatat sekitar 95 % penderita
diabetes di Indonesia adalah diabetes tipe 2.
3. Gestational Diabetes
Tipe diabetes
ini terjadi karena kondisi gula darah menjadi tinggi pada masa
kehamilan dan terjadi pada orang yang tidak menderita diabetes. Biasanya
gula darah akan kembali normal setelah masa kahamilan berakhir.
Jadi
penyakit diabetes tipe ini hanya bersifat sementara.
Meski
demikian jika penderita tidak ditangani dengan baik, akan memberi
dampak buruk baik bagi janin dan bagi sang ibu.
Pada bayi diabetes tipe
ini dapat mengalami resiko seperti makrosomia (bobot bayi yang
tinggi atau di atas normal), penyakit jantung bawaan, kelainan sistem
syaraf pusat dan cacat otot rangka.
Peningkatan hormon insulin janin
dapat menghambat produksi surfaktan janin dan mengakibatkan sindrom
gangguan pernafasan.

0 komentar:
Post a Comment